
Bengkulu – Era perbankan digital kembali menyisakan tanda tanya besar di Kabupaten Batang. Wakil Ketua DPRD Batang, Junaenah, mengaku kehilangan hampir Rp 1,3 miliar dari rekening pribadinya di Bank Rakyat Indonesia (BRI).
Dana itu disebut ludes dalam hitungan jam, meninggalkan saldo hanya Rp 100 ribu.Peristiwa yang terjadi pada 20 Januari 2024 itu kini menjadi sorotan, bukan hanya karena nilai kerugian yang fantastis, tetapi juga karena rangkaian kejanggalan yang menyertainya mulai dari file APK mencurigakan hingga notifikasi akun digunakan di perangkat lain.
Malam waktu itu, Junaenah mengaku tak menyentuh ponselnya. Namun sebelumnya, ia sempat membuka file undangan berbentuk APK yang membuat perangkatnya mendadak hang.Keesokan paginya, ponsel tak bisa dioperasikan.
Merasa ada yang janggal, ia langsung memblokir layanan digital banking dan menghapus seluruh aplikasi perbankan.Langkah tersebut sempat membuatnya merasa aman.
Namun sebagai pelaku usaha beras dan gabah yang kerap bertransaksi dalam jumlah besar, ia akhirnya kembali mengaktifkan layanan BRImo demi kelancaran pembayaran ke Bulog.Junaenah mendatangi kantor BRI Batang untuk aktivasi ulang. Proses registrasi dilakukan oleh petugas Customer Service menggunakan ponselnya.
Dia sempat meminta agar tidak menggunakan email dan nomor lama, tetapi disebut hanya bersifat sementara.Tanpa sepengetahuannya, akun tersebut juga terdaftar pada layanan IBiz dengan limit transaksi harian mencapai puluhan miliar rupiah.Tak lama setelah itu, muncul notifikasi bahwa akunnya digunakan di perangkat lain.
Padahal, ponsel berada di rumah dan tidak diakses siapa pun.“Saya coba login, tapi sudah tidak bisa. Seperti ada yang mengendalikan dari tempat lain,” kata Junaenah kepada Tribunjateng, Senin (16/2/2026).
Senin pagi, ia mendatangi bank untuk mencetak rekening koran.Dari saldo sekitar Rp1,3 miliar, tersisa Rp100 ribu. Catatan menunjukkan transfer bertahap ke sejumlah rekening bank lain dalam waktu singkat.Dana tersebut, menurutnya, bukan hanya milik pribadi, tetapi juga titipan petani gabah yang bekerja sama dengannya.
“Saya daftar m-banking di kantor, dibantu CS sepenuhnya, tapi uang saya malah hilang,” ucapnya.
Sebagai nasabah prioritas, Junaenah berharap penanganan lebih cepat dan transparan. Namun ia mengaku kesulitan bertemu pimpinan cabang dan diminta menunggu investigasi dari pusat.
Sementara itu, pihak BRI Cabang Batang menyatakan kewenangan penanganan berada di kantor pusat dan tidak memberikan penjelasan rinci kepada media.Kasus ini menjadi pengingat keras bahwa literasi dan keamanan digital masih menjadi tantangan besar, bahkan bagi pejabat publik sekalipun.
Di tengah kemudahan transaksi daring, celah keamanan baik dari sisi pengguna maupun sistem, bisa berujung kerugian besar.Peristiwa ini pun memunculkan pertanyaan yang lebih luas, sejauh mana perlindungan bank terhadap dana nasabah di era digital, dan bagaimana mekanisme tanggung jawab ketika sistem diduga berhasil ditembus.
Hingga kini, Junaenah masih menanti kejelasan nasib uangnya dan mungkin juga jawaban atas kegelisahan banyak nasabah lainnya.
Baca Artikel Selengkapnya: https://video.tribunnews.com/news/880279/cerita-menkeu-purbaya-pekerjakan-hacker-terlatih-di-rusia-bereskan-coretax-mereka-merah-putih-semua
